Category Archives: Coretan

Kau tau tentang rindu ?

Standard

Kau tau tentang rindu ?

Rasanya seperti menusuk-nusuk, hmm ntahlah apa, yang ada di dalam, di sini, menurutku. Ya, ya.. Ketika tak terbalas, tentu saja. Aku tau rasanya akan sangat menyenangkan jika berbalas. Bukan begitu ?

Ah.. Ya Allah, sudah berapa rinduMu yang tak terbalas, rindu pada umatMu yang tak kunjung menyadari rinduMu yang begitu besar.

Rabbighfirlii.. 😥

 

#Curhat

Standard

-Kecewa ada, karena adanya harapan-

Malam ini, di dapur.

Lapeer. Kata mamah nasi masih ada, tapi semua temen nasi udah habis, mau ngga mau harus masak sendiri.

Karena udah terlanjur (sangat) laper, bikin telor dadar aja yang gampang.

Semangat iris-iris cabe, iris-iris tomat, iris-iris bawang daun. Goreng.

Keluarin kecap. Siapin Kerupuk. Kalo sama telor dadar aku paling suka nasi duluan, terus telor di atasnya, pokoknya ketutupin telor, dipakein kecap. Hmmm. Udah kebayang banget.

Sebelum telor bener-bener mateng, aku mau ambil nasi. Pas buka ricecooker, daan ZONK!!!

Nasinya udah habis.

Rasa hati tidak terdeskripisikan oleh rasa manapun. -_-

Seringkali aku merencanakan ini,ini, ini dan ini, tidak jarang kecewa karena seringkali terganggu oleh banyak faktor. Pada intinya, memanglah kita hanya boleh berharap dan menyerahkan segala urusan padaNya, bukan pada hal apapun, bahkan sepiring nasi sekali pun.

Aku hanya ingin tau ..

Standard

Seharusnya.. keluarga adalah pendidikan pertama, tempat belajar, tempat bertanya, juga tempat pulang ..

Ayah, ibu, pada siapa aku harus bertanya jika engkau pun tak mau menjawab pertanyaan kecilku?

“Bu, apa itu bu?” ketika kita melewati satu toko.

“Sudah diam, ibu sedang terburu-buru.”

Aku terpaksa diam. Merutuk dalam hati.. “Aku ingin tau itu Bu.. “

Lalu aku pun tumbuh dengan normal, menurutmu. Tapi engkau tak pernah tau, aku takut lagi untuk bertanya.

Sampai ketika aku sedikit beranjak sedikit dewasa, pertanyaan mulai bermunculan lagi di kepalaku.

Pernah aku bertanya, “Bu, memangnya kenapa kita tidak boleh terlalu dekat kalo temenan sama lawan jenis?”

“Buat apa sih kamu tanya begitu?! Sudah kerjakan PRmu”

Lalu lain waktu aku bertanya padamu, “Ayah, kenapa kita harus terus belajar?”

“Tanya aja pada gurumu, ayah sedang sibuk kerja.. ”

Aku hanya ingin tau tentang kenapa aku harus beribadah, juga mengerjakan PR yang membosankan. Kenapa aku harus setiap hari pergi ke sekolah. Ah ibu ,, memangnya tidak boleh ya aku tanya tentang semua itu.

Ayah, aku capek ketika katamu aku harus mengerjakan ini dan aku tidak boleh mengerjakan itu, tapi sekalipun ayah tak pernah menjawab jika aku tanyakan alasannya kenapa.

Ah, mungkin ayah dan ibu hanya menganggap itu pertanyaan bodoh, yang tak membutuhkan jawaban. Tapi ibu.. ayah .. pada siapa lagi aku akan bertanya, jika engkau pun tak mau menjawab pertanyaan bodohku?

Demi mendapat jawaban atas laranganmu, ayah, aku sengaja mencoba melakukannya. Aku ingin tahu, kenapa engkau melarangku.

Jangan salahkan aku ketika aku ingin mencari tau, karena tak pernah ayah dan ibu menjawab pertanyaanku. Tapi setelah aku mencari tau yang selalu kudapati adalah ibu dan ayah marah. Kenapa aku lakukan ini, kenapa aku lakukan itu. Ayah sudah melarang, ibu sudah melarang. Kenapa kamu lakukan itu??

Ayah,, aku hanya ingin tau ..

Ibu .. salahkah jika aku ingin tau?

Corat Coret

Standard

Karena jam 1 nanti aku udah janjian sama tugas dan sambil menunggu waktu janjian sama Allah beberapa menit lagi .. skrang mau corat coret dulu ..

Setelah baca-baca komen orang di satu gambar di fb yang dtag aku, tentang 2 temen aku dan 1 kk tingkat yang berangkat ke Riau buat Teminal ekonomi syariah, aku jadi seperti tersambar petir, hoo .. jadi, apa yang aku lakuin selama ini, orang lain udah sampe di Riau, aku masih di kosan baca komen. Ckck..

Setelah melongo merenung beberapa saat, hmm.. aku menyadari sesuatu, kebanyakan aktifitas yang aku lakuin selama kuliah ini, setengah-setangah, dari mulai organisasi intra yang kadang bolos, mungkin karena awalnya yang setengah hati ikutannya jadilah setengah-setengah hasilnya.

Bukan salah Universitas ketika aku tidak bisa bersaing dengan orang luar karena minimnya koneksi kampus, lihat saja temanku bisa ko..

Dan yang sebaiknya aku fikirkan sekarang adalah, aku bakal fokus pada hal apa??

Seringkali aku kehilangan fokus karena aku selalu tertarik dengan bidang lain yang sepertinya bakal menambah wawasan, tapi. tapi. tapi.. mulai sekarang aku harus menentukan pilihan, apa yang sebaiknya aku dahulukan dan pelajari benar-benar ..

I dont find my self yet, but I’ll find, Rightnow!

Gotcha!! 😀

Rabbishrahlii shadri,, wa yassirlii amri .. Bismillah .. 🙂

Dilema Nilai

Standard

Semester ini IP seperti terjun bebas, mendarat di lahan penuh batu. Amazing rasanya. Tercekat di leher.

Fiuuh .. Aku harus belajar lagi.”

Siang tadi satu nilai menakjubkan keluar. Sudah telat keluar, pas keluar, luar biasa mengecewakan mengagetkan banyak mahasiswa.  Dari 42 mahasiswa ada 13 dapat nilai D, selebih nya C, beberapa B, dan hanya 4 A.

Mata kuliah ini, di dosen-i oleh dosen yang juga mengajar di semester lalu, dan nilainya pun sama mengenaskannya menakjubkannya. Mahasiswa merasa dirugikan.

Ntahlah, apa modus dibalik hancurnya nilai mata kuliah ini.

Disini ada beberapa kemungkinan, Guru (baca: dosen) yang objektif sehingga memberikan nilai ‘sepantasnya’ sesuai kemampuan mahasiswa, dan mahasiswa tidak cukup tau diri ketika melihat nilainya hancur, protes, padahal memang begitulah hasilnya.

Kemungkinan lain, sang guru terlalu ‘berselera tinggi’ dan merasa tidak puas dengan jawaban mahasiswa yang pas-pasan menurutnya. Sehingga nilai merah, dan mahasiswa marah.

Kemungkinan lain lagi, nilainya itung kancing. (Kalo ini mahasiswa patut menutut)

Atau ada kemungkinan-kemungkinan lainnya yang mungkin menjadi latar belakang masalah hancurnya nilai matakuliah yang satu ini.

Sekarang lupakan sejenak tentang hancurnya nilai, setidaknya ilmunya yang kita dapat dari matakuliah itu tidak terkurangi karena nilainya jelek kan ? 🙂

Dari masalah di atas, jelas betul yang menjadi masalah adalah nilai. Tepatnya angka. 4 untuk A, 3 untuk B, 2 untuk C dan seterusnya. Murid dituntut untuk mendapatkan angka yang sempurna dan guru harus seobjektif mungkin menilai kemampuan murid. Itu seharusnya, tapi bagaimana kenyataanya?

Banyak guru yang memberi nilai bagus, hanya karena ingin muridnya lulus. Tanpa peduli dengan kemampuan murid sebenarnya.

Kalau kata dosen pembimbing bahtsul kutuk saya, “Secara tidak langsung, dosen itu membodohkan mahasiswa, memberikan nilai tidak sesuai kemampuan.”

Sayang sekali bukan kalau kita hanya mendapatkan nilai fiktif?

Tapi bagaimana jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin, belajar jungkir balik, mengerjakan tugas, melaksanakan ujian, tapi tetap saja nilainya hancur?

Fiuuh.. Mungkin kita harus lebih berusaha lagi.”

Ada rahasia, dibalik rahasia .. 😀

Apapun angka yang kita dapat, jika prosesnya baik, insyaalah barokah, tidak ada yang tidak bermanfaat dari kebaikan .. 🙂

Kita balik lagi ke masalah hancurnya nilai, jika memang nilai yang kita dapat sesuai dengan kemampuan kita, kita patut bersyukur, masih ada dosen yang jujur dan berani menyadarkan kemampuan kita.

Jika memang nilai yang kita dapat tidak sesuai dengan kemampuan kita, semoga masih ada jalan memperbaikinya. Semoga Allah menunjukkan jalannya, jangan lupa berusaha.. 🙂

Pertolongan pertama untuk luka bakar ringan

Standard

Biasanya ketika mengalami luka bakar ringan atau terkena panas (contoh :setrika) disarankan untuk memakai odol untuk pertolongan pertama. Tapi, tapi, tapi, katanya .. memakai odol itu kurang baik, ntahlah apa kurang baiknya itu juga katanya. Aku bukan ahli dibidangnya.

Tapi ada cara lain loh, yang setelah aku praktekan aku baru tau katanya itu juga bisa jadi pertolongan pertama untuk luka bakar ringan atau kena panas.

Sekitar dua minggu yang lalu, setrikaan panas mampir di kaki. Ceritanya temen sekamar habis setrika, disimpan di bawah tempat tidur, aku lagi beresin tempat tidur, ngga sengaja kesenggol, dan aaaa.. Panass!! Langsung lari ke kamar mandi, lihat odol kayanya ngga deh, inget ‘katanya’  yang pertama diatas.

Akhirnya karena ngga tahu harus ngapain lagi, akhirnya buka keran, beberapa detik si kaki kena guyuran air, meskipun ngga sepenuhnya jadi dingin tapi, rasanya tidak sepanas diawal.

Nyut-nyutan sepanjang hari, tapi anehnya, luka bakar itu tidak mengembang dengan semacam cairan, yang biasanya dialami ketika terkena luka bakar. Padahal lukanya lumayan besar, hampir 3 jari.

Ternyata setelah ngobrol-ngobrol dengan seorang teman, memang jika terkena luka bakar ringan, agar tidak bengkak atau menggelembung dan mengeluarkan cairan bisa dengan cara langsung diguyur dengan air yang mengalir.

“Ohh..” Alhamdulillah, ngga salah langkah, meskipun ntah benar atau ngga, lebih jelas tanya orang yang ahli dibidangnya. Tetapi, sejauh yang saya alami memang si ‘luka’ tidak mengalami pembengkakan sedikitpun, cuman nyut-nyutan dan sebentar memerah, lalu kering, meskipun sampe sekarang masih berbekas tapi ntar juga hilang sendiri.

Semoga bermanfaat .. ^_^

gambar -_______-

Standard

Ntah dari mana aku dapet gambar ini, tapi udah beberapa kali gambar ini nampang jadi photo profil facebook, bahkan dari jamannya FS. Pernah jadi wallpapernya hape bahkan notebook. Sekarang jadi gravatarnya wordpress.. :))

Buat yang punya gambar ini maaf ya aku udah beberapa kali gunain tanpa izin ..