Genggam Hidup (diawali) dengan shalat

Standard

Ada 3 mesjid di perumahan tempat aku tinggal. Satu di sudut belakang, satu di sudut kiri depan, dan satu mesjid tepat awal masuk perumahan. Dan mesjid yang terakhir itu kami sebut mesjid besar. Meskipun ukurannya tidak terlalu besar, tapi cukup menampung warga se-perumahan untuk shalat jum’at, shalat ied dan kegiatan-kegiatan anak-anak, seperti mengaji dan kegiatan ramadhan.

Hari ini, sepulang mengantar mamah ke pasar, aku melewati mesjid depan tepat ketika shalat duhur berlangsung. Alhamdulillah, hampir tidak pernah mesjid kosong di setiap waktu shalat, ada saja yang menyempatkan shalat berjamaah, meskipun hanya beberapa.

Aku lihat 3 orang anak kecil sedang shalat di belakang imam. Tak lupa dengan saling sikut teman sebelah, juga tengok kanan dan kiri.

Wajarlah jika anak kecil yang berlaku begitu, semangatnya masih besar untuk pergi ke mesjid, meskipun shalatnya belum khusyu’, setidaknya mereka tepat waktu.

Lalu apakabar shalatku? Sudah lebih khusyu’ kah dari mereka? Atau malah lebih kacau dari saling sikut dan tengok kanan kiri?

Semester 2 lalu aku mendapat mata kuliah khusus, meskipun 0 sks, tapi semua mahasiswa harus mengikuti mata kuliah ini. Praktek ibadah.

Mahasiswa, setidak kita sudah berumur 17 tahun atau lebih. Karena universitas tempatku belajar adalah Universitas Islam, mana mungkin mahasiswanya tak kenal dengan shalat. Dan banyak yang bertanya untuk apa lagi kita belajar tentang praktek ibadah?

Beberapa mahasiswa pun mengabaikan mata kuliah ini, padahal sertifikatnya berlaku ketika kita akan ujian munaqosah. #hehe

Yang paling aku ingat adalah ketika tes terakhir, dosen me-review setiap materi yang telah diberikan. Dan di akhir beliau berkata,

“Shalat itu tiangnya agama, Shalat mu lalai, maka semuanya pun terbengkalai.”

Seringkali kita dengar seperti itu, tapi apa kita sudah tak lalai dalam shalat ?

Dan seharusnya aku menyadari ketika aku sering merasa gundah dan hati merasa tak tenang, pasti karena shalatku masih belum benar.

Shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar (Q.S. Al-Ankabut: 45)

Ketika kita berbuat keji dan/atau munkar maka hati menjadi tak tenang. Periksa lagi shalatnya, periksa lagi shalatnya .. !

Salah satu guruku pernah mempraktekkan bagaimana shalat sangat berlaku penting dalam hidup kita.

Beliau memparaktekkan dengan memegang sebuah spidol.

“Kalian pasti tidak lupa dengan rukun islam, 1 syahadat, 2 shalat, 3 zakat, 4 puasa, 5 haji. Andaikan saja spidol ini adalah kehidupan, dan 5 jari ini adalah penggenggam kehidupan.  Allah swt, menghitung amalan kita dengan cara melihat satu persatu dari kelima rukun islam secara berurutan.

Letakkan pulpen di atas telapak tangan. Ketika kita sudah bersyahadat maka lipatlah satu jari kita, kita lipat jempol kita. Satu rukun terpenuhi.

Kedua adalah shalat, ketika kita sudah melaksanakan shalat 5 waktu maka lipatlah jari satunya lagi, lipat jari telunjukmu. Begitulah terus sampai rukun islam terakhir terlaksana. Tergenggam dengan kuatlah kehidupan kita. Dan sulit syetan merebut hidupmu.

Tapi ketika shalat kita sudah tak benar, maka perhitungan selanjutnya tak akan bisa dilanjutkan. Jika syahadat saja yang menggenggam hidupmu, sangat mudah sekali syetan merebut hidup kita. Sekuat-kuatnya satu hari menggenggam tetap saja, hanya 1/5 kekuatan dari 5 jari.”

Perintahkanlah keluargamu untuk menunaikan shalat dan bersabarlah atasnya.” (Thaha: 132)

Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka bila enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR. Ahmad dan dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 5744: “Hadits ini hasan.”)

Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Bagaimana menurut kalian, bila ada sebuah sungai besar di depan pintu salah seorang dari kalian yang dia mandi di dalamnya lima kali dalam sehari, apakah ada dakinya yang tertinggal?’ Para shahabat menjawab: ‘Tidak akan tertinggal dakinya sedikit pun.’ Beliau pun berkata: ‘Demikian permisalan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan’.” (HR. Al-Bukhari no. 528 dan Muslim no. 668)

Akan tetapi kalian mengutamakan dunia, sementara akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la: 16-17)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s