Marah + marah = meledak

Standard

Diambil dari tulisan Dr. Muhammad al-Arifi dalam bukunya yang berjudul Nikmati Hidupmu!šŸ˜€

Judul : Sehelai Rambut Mu’awiyah

Seorang guru mengajar matematika di sekolah menengah kelas akhir. Saat mengajar, ia melihat beberapa murid acuh tak acuh dan tidak menyimak penjelasannya. Karena itu, ia bermaksud mengajari mereka kesopanan.

Suatu hari, ketika masuk kelas itu dan baru duduk di kursi ia langsung mengagetkan mereka, “Letakkan buku kalian masing-masing di samping meja. Keluarkan selembar kertas dan alat tulis.”

“Ada apa pak?” tanya mereka.

“Ulangan!” jawab sang guru singkat. “Sekarang kita ulangan dadakan.”

Murid-murid mulai menggerutu. Mereka berbisik satu sama lan. Nah, diantara mereka ada seorang murid bertubuh besar tetapi berakal kecil. Banyak bermasalah, tetapi gampang marah. Dalam suasana seperti tu, murid itu angkat suara, “Pak, kami tdak mau ulagan. kami tentu akan menjawab dengan sungguh-sungguh bila sebelumnya belajar. Demi Tuhan, bagaimana akan menjawab jika tidak belajar?!”

Mendengar muridnya berkata begitu. guru itu marah. Karena merasa dimarahi, murid itu ikut marah.

Sang Guru mendatangi murid tu. dengan suara lantang di bakar emosi, berkali-kali ia berkata, “Hai anak kurang ajar.. ! Wahai yang tidak berpendidikan… Waha… !” Ia terus mendekat dan mendekat.

Tiba-tiba murid itu bangkit.

Selanjutnya, terjadilan sesuatu yang tidak perlu terjadi.

Masalah itu akhirnya terdengar oleh pihak manajemen sekolah. Sebagai hukuman, murid itu diturunkan dua tingkat. Selain itu, ia juga diminta menulis perjanjian akan berlaku sopan.

Sementara itu, sang guru menjadi buah bibir, perumpamaan, dan bahan perbincangan para murid di sekolah. saat berjalan di sepanjang koridor, ia mendengar komentar dan bisikan. Akhirnya, karena merasa tidak tahan, ia memutuskan pindah ke sekolah lain.

Seorang guru yang lain menghadapi keadaan serupa. Tetapi perilakunya terhadap murid itu baik. Suatu hari ia masuk ke kelas dan berkata. “Keluarkan kertas dan alat tulis, sekarang kita ulangan dadakan.”

Diantara murid yang ia hadapi ada anak itujuga. seperti biasa, anak itu berkata. “Tidak bisa begitu, Pak!”

Sang guru berkata dengan lembut dan tenang, “Sudahlah, yang tidak mau ikut ulangan harap tertib.”

Sekarang tulislah. Soal pertama, tentukan hasil dari persamaan s+sh=a+15. Begitulah ia membacakan soal demi soal.

Akhirnya anak yang tidak mau ikut ulangan itu tidak bisa bersabar. “Sudah saya katakan, saya tidak mau ikut ulangan.” Sang guru memandanginya dengan tersenyum renyah.
Ia berkata. “Apakah aku mewajibkanmu ikut ulangan? karena sudah dewasa, engkau bertanggung jawab atas perbuatanmu.”

Tidak ada yang memancing marah anak itu, akhirnya ia keluarkan kertas dan alat tulisnya, dan menulis soal bersama teman-temannya.

Menyikapi kemarahan dengan amarah bisa membuat suasana meledak-ledak dan memperuncing keadaan. Sebagaimana diketahui orang berakal, jika api ketemu api, maka kobarannya akan tambah besar dan menghancurkan. Sebaliknya, jika dingin dihadapi dengan dingin maka tidak akan ada yang tegak.

“Maka, jadikanlah sehelai rambut Mu’awiyah sebagai pengikatmu dengan sesama.”

Mu’awiyah r.a pernah ditanya, “Bagaimana engkau bisa menjadi amir selama dua puluh tahun, kemudian menjabat khalifah selama dua puluh tahun?”

Ia menjawab.

“Kujadikan antara aku dan mereka sehelai rambut, salah satu ujungnya ada ditanganku, dan ujung yang lain di tangan mereka. Jika mereka menarik, aku mengulur. Dengan begitu rambut itu tidak putus. Sebaliknya jika mereka mengulur, aku yang menarik.”

Kupikir kita semua sepakat bahwa sepasang suami istri tidak akan bisa hidup tenang jika mereka sama-sama pemarah. Hubungan persahabatan pun juga tidak akan bertahan lama jika kedua belah pihak sepert itu.

“Orang yang kuat bukanlah yang bertubuh kekar, melainkan yang bisa menguasai diri ketika marah. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s